Assalamualaikum Warrahmatullah hiwabarrakatuh,
Dalam artikel ini saya akan memposting sebuah CERITA ISLAM tentang pentingnya menolong sesama, semoga artikel AKU MENOLONG KARENA ITULAH AKU ADA dapat menggugah hati anda sekalian yang membaca dan mau menolong sesama dengan ikhlas. Berikut Cerita Islam nya :
Ada orang jatuh dari kendaraan dan hampir pingsan. Namun datang penolong bertanya, lebih dulu terjadilah perbincangan. "Dari mana asalmu?" | "Aku dari kampung Duduk Sampeyan" | "Apa agamamu?" | "Agamaku Islam abangan" | "O, shalat jarang kaulakukan ya?" | "Iya, aku masih dalam kebodohan" | "Apa ormasmu?" | "Aku NU" | "Apa partaimu? PKB atau PPP?" | "Partai Kebangkitan Bangsa" | "Yang Gus Dur atau Cak Imin?" | "Gus Dur" | "Dimana beliau dimakamkan?" | "Di tebu Ireng, Jombang" | "Pernah Ziarah kesana atau belum?" Orang itu pun menghembuskan nafas terakhir sebelum memberikan jawaban. KIAI Budi Harjono, pengasuh Pesantren Al-Ishlah Tembang, Semarang, melontarkan sindiran itu berupa puisi, "Ikhlas bagai Pohon", dalam antologi Pusaran Cinta (2013:67). Ya, dia menyindir betapa acap kali kita menimbang-nimbang saat seharusnya segera menolong sesama yang mengalami nestapa, celaka, atau bencana.
Ah, sudah sedemikian tak pekakah masyarakat kita? "Iya." Mungkin begitu jawaban Anda, sembari menunjukkan contoh betapa sulit mencari orang yang bersegera memberikan kursi di bus atau angkot pada perempuan tua atau hamil. Biasaanya kita berpura-pura tidur atau sok sibuk, ketimbang segera berdiri dan menyilakan siapa pun yang jauh lebih membutuhkan untuk bisa duduk. Apalagi kini ketika bencana datang beruntun di berbagai kawasan. Lihatlah, tenda dan pos bantuan dimana-mana. Namun, tunggu dulu, di pos dan tenda itu berkibar bendera parta, terpajang gambar calon anggota parlemen. Jadi sambil menyelam minum air, menolong sembari berpromosi? Ya, itu yang kasatmata. Di bawah "permukaan", jauh lebih banyak orang yang ringan tangan, mudah dan segera membantu sesama yang kesusahan. Tanpa berharap imbalan, tanpa ingin dikenal. Itulah yang terjadi ketika bencana melanda. Tak sedikit anak muda dari berbagai kawasan, tingkat pendidikan, latar kesukuan dan agama, datang membantu di lokasi bencana.
Mereka, sukarelawan itu, bekerja tanpa banyak bicara. Mereka, kaum muda itu, menghibur anak-anak, membantu para jompo, sibuk di dapur umum, mengungsikan korban, menyalurkan bantuan. Mereka membiayai sendiri kebutuhan pribadi; sejak datang sampai kelak kembali. Mereka datang dan membantu lantaran panggilan nurani, panggilan jiwa. Boleh jadi, mereka berprinsip: aku menokong dan karena itu aku ada. Ya, ya, di mana pun, kapan pun, masih selalu ada orang baik yang riap membantu ketika sesama sedang celaka. Percayalah!
Semoga artikel yang saya posting dapat bermanfaat bagi anda. Terimakasih :)
Dalam artikel ini saya akan memposting sebuah CERITA ISLAM tentang pentingnya menolong sesama, semoga artikel AKU MENOLONG KARENA ITULAH AKU ADA dapat menggugah hati anda sekalian yang membaca dan mau menolong sesama dengan ikhlas. Berikut Cerita Islam nya :
Ada orang jatuh dari kendaraan dan hampir pingsan. Namun datang penolong bertanya, lebih dulu terjadilah perbincangan. "Dari mana asalmu?" | "Aku dari kampung Duduk Sampeyan" | "Apa agamamu?" | "Agamaku Islam abangan" | "O, shalat jarang kaulakukan ya?" | "Iya, aku masih dalam kebodohan" | "Apa ormasmu?" | "Aku NU" | "Apa partaimu? PKB atau PPP?" | "Partai Kebangkitan Bangsa" | "Yang Gus Dur atau Cak Imin?" | "Gus Dur" | "Dimana beliau dimakamkan?" | "Di tebu Ireng, Jombang" | "Pernah Ziarah kesana atau belum?" Orang itu pun menghembuskan nafas terakhir sebelum memberikan jawaban. KIAI Budi Harjono, pengasuh Pesantren Al-Ishlah Tembang, Semarang, melontarkan sindiran itu berupa puisi, "Ikhlas bagai Pohon", dalam antologi Pusaran Cinta (2013:67). Ya, dia menyindir betapa acap kali kita menimbang-nimbang saat seharusnya segera menolong sesama yang mengalami nestapa, celaka, atau bencana.
Ah, sudah sedemikian tak pekakah masyarakat kita? "Iya." Mungkin begitu jawaban Anda, sembari menunjukkan contoh betapa sulit mencari orang yang bersegera memberikan kursi di bus atau angkot pada perempuan tua atau hamil. Biasaanya kita berpura-pura tidur atau sok sibuk, ketimbang segera berdiri dan menyilakan siapa pun yang jauh lebih membutuhkan untuk bisa duduk. Apalagi kini ketika bencana datang beruntun di berbagai kawasan. Lihatlah, tenda dan pos bantuan dimana-mana. Namun, tunggu dulu, di pos dan tenda itu berkibar bendera parta, terpajang gambar calon anggota parlemen. Jadi sambil menyelam minum air, menolong sembari berpromosi? Ya, itu yang kasatmata. Di bawah "permukaan", jauh lebih banyak orang yang ringan tangan, mudah dan segera membantu sesama yang kesusahan. Tanpa berharap imbalan, tanpa ingin dikenal. Itulah yang terjadi ketika bencana melanda. Tak sedikit anak muda dari berbagai kawasan, tingkat pendidikan, latar kesukuan dan agama, datang membantu di lokasi bencana.
Mereka, sukarelawan itu, bekerja tanpa banyak bicara. Mereka, kaum muda itu, menghibur anak-anak, membantu para jompo, sibuk di dapur umum, mengungsikan korban, menyalurkan bantuan. Mereka membiayai sendiri kebutuhan pribadi; sejak datang sampai kelak kembali. Mereka datang dan membantu lantaran panggilan nurani, panggilan jiwa. Boleh jadi, mereka berprinsip: aku menokong dan karena itu aku ada. Ya, ya, di mana pun, kapan pun, masih selalu ada orang baik yang riap membantu ketika sesama sedang celaka. Percayalah!
Semoga artikel yang saya posting dapat bermanfaat bagi anda. Terimakasih :)
Tag :
Islam

0 Komentar untuk "Contoh Cerita Islam"